Telah tercatat dalam sejarah bahwa Islam telah berjaya dan mengalami kemajuan dalam segala bidang selama beratus-ratus tahun, namun disisi lain umat islam juga pernah mengalami kemunduran dan keterbelakangan.
Dinasti Bani Abbasiyah, sebagai dinasti kedua dalam sejarah
pemerintahan umat Islam setelah dinasti Bani Umayyah, dalam sejarah
perjalanannya mengalami fase-fase yang sama dengan dinasti Umayyah, yakni fase
kelahiran, perkembangan, kejayaan, kemudian memasuki masa-masa sulit dan
akhirnya mundur dan jatuh.
Kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah yang menjadi
awal kemunduran dunia Islam terjadi dengan proses kausalitas sebagaimana yang
dialami oleh dinasti sebelumnya. Konflik internal, ketidak mampuan khalifah
dalam mengkonsolidasi wilayah kekuasaannya, budaya hedonis yang melanda
keluarga istana dan sebagainay, disamping itu juga terdapat ancaman dari luar
seperti serbuan tentara salib ke wilayah-wilayah Islam dan serangan tentara
Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Dalam makalah ini penulis akan membahas
sebab-sebab kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah serta dinamikanya.
Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pepatah inilah yang
sangat pas untuk dijadikan cermin atas kejayaan yang digapai bani Abbasiah.
Meskipun Daulah Abbasiyah begitu bercahaya dalam mendulang kesuksesan dalam
hampir segala bidang, namun akhirnya iapun mulai menurun dan akhirnya runtuh.
Menurut beberapa literatur, ada beberapa sebab keruntuhan daulah Abbasyiah,
yaitu:
A. Faktor Internal
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah,
faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya
sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini
sangat kuat, sehingga benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah
kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri
cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah,
mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang
menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut
saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai
berikut:[1]
- 1. Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu
dengan orang-orang Persia.
Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa
Bani Umayyah
berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri,
dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun,
ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah.
Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan).
Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah
tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti
dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka
adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab
('ajam) di dunia Islam.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh
penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru.
Budak-budak bangsa Persia
atau Turki dijadikan
pegawai dan tentara. Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang
besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka di diangkat
menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam
kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami.[2]
Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang lemah, naik tahta,
dominasi tentara Turki
semakin kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak
itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan
orang-orang Turki.
Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih,
bangsa Persia, pada
periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk,
bangsa Turki pada periode keempat (447-590H).[3]
- 2. Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
Wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga masa
keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir,
Syria, Irak, Persia,
Turki dan India. Walaupun dalam kenyataannya banyak daerah yang tidak dikuasai
oleh Khalifah, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan
gubernur-gubernur bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan
pembayaran upeti.[4]
Ada kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan
pengakuan nominal, dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak
cukup kuat untuk membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan
penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa
Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada
politik dan ekspansi.[5] Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang
memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di
pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki.[6] Akibatnya
propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa
Bani Abbas. Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada
masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
- Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania (261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai Baghdad (320-447).
- Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan (352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
- Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
- Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
- Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir.[7]
- 3. Kemerosotan Perekonomian
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan
pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal
penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang
pertanian, perdagangan dan industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran
politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis.[8]
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini, pendapatan
negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya
pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan,
banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya
pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi
membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh
kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam
dan para pejabat melakukan korupsi.[9]
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian
negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan
politik dinasti Abbasiyah, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
- 4. Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka
kekecewaan itu mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme
dan Mazdakisme.
Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah.
Khalifah Al-Manshur yang berusaha keras memberantasnya, beliau juga memerangi
Khawarij yang mendirikan Negara Shafariyah di Sajalmasah pada tahun 140 H.[10]
Setelah al Manshur wafat digantikan oleh putranya Al-Mahdi yang
lebih keras dalam memerangi orang-orang Zindiq bahkan beliau mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi
kegiatan mereka serta melakukan mihnah
dengan tujuan memberantas bid'ah.
Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum
beriman dengan golongan Zindiq
berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang
ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah
pihak. Gerakan al-Afsyin
dan Qaramithah
adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak
berlindung di balik ajaran Syi'ah,
sehingga banyak aliran Syi'ah
yang dipandang ghulat
(ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri.
Aliran Syi'ah memang
dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah.
Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan
penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali
di Karballa
dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi'ah
"menziarahi" makam Husein tersebut.[11] Syi'ah pernah
berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih
lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah
di Marokko dan
khilafah Fathimiyah di Mesir
adalah dua dinasti Syi'ah
yang memerdekakan diri dari Baghdad
yang Sunni.
Selain itu terjadi juga konflik dengan aliran Islam lainnya
seperti perselisihan antara Ahlusunnah dengan Mu'tazilah, yang dipertajam oleh al-Ma'mun, khalifah
ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan mu'tazilah
sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil
(847-861 M), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan ahlusunnah
kembali naik daun. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih.
Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut paham Asy'ariyyah
penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung
penguasa, aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya.[12]
B. Faktor Eksternal
Selain yang disebutkan diatas, yang merupakan faktor-faktor
internal kemunduran dan kehancuran Khilafah bani Abbas. Ada pula faktor-faktor
eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
- 1. Perang Salib
Kekalahan tentara Romawi telah menanamkan benih permusuhan
dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu bertambah
setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan beberapa
peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin
berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan
kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal
dengan nama Perang Salib.
Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau
periode telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam.
Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai
Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre.[13]
- 2. Serangan Mongolia ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah
Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia
Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang
kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H).
Sebagai awal penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam,
orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia
dan juga menguasai Asia Kecil.[14] Pada bulan September 1257, Hulagu
mengirimkan ultimatum kepada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok
kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi Khalifah tetap enggan memberikan jawaban.
Maka pada Januari 1258, Hulagu khan menghancurkan tembok ibukota.[15] Sementara
itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base pasukan
mongolia. Setelah itu para pemimpin dan fuqaha juga keluar, sepuluh hari
kemudian mereka semua dieksekusi. Dan Hulagu beserta pasukannya menghancurkan
kota Baghdad dan membakarnya. Pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan
jumlah korban sekitar dua juta orang.[16] Dan Dengan terbunuhnya Khalifah
al-Mu’tashim telah menandai babak akhir dari Dinasti Abbasiyah.
KESIMPULAN
Dari uraian masalah di atas, maka dapat dirumuskan
kesimpulan sebagai berikut:
- 1. Kemunduran dinasti Abbasiyah, secara umum disebabkan oleh dua faktor; Internal dan Eksternal.
- Secara internal dapat dirinci sebagai berikut:
- Tampilnya penguasa lemah yang sulit mengendalikan wilayah yang sangat luas ditambah sistem komunikasi yang masih sangat lemah dan belum maju menyebabkan lepasnya daerah satu per satu.
- Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok dan berfoya-foya kemudian diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat ikut menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.
- Dualisme pemerintahan, secara de jure dipegang oleh Abbasiyah, tetapi secara de facto digerakkan oleh oleh tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh al-mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan.
- Praktek korupsi oleh penguasa diiringi munculnya nepotisme yang tidak profesional di berbagai propinsi.
- Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma’mun secara jelas membagi Abbasiyah dalam dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia, Pertentangan antara Arab-non Arab, perselisihan antara muslim dengan non-muslim, dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri.
- Secara ekternal disebabkan oleh karena Abbasiyah
menghadapi perlawanan yang sangat gencar dari dunia luar. Pertama, mereka
mendapat serangan secara tidak langsung dari pasukan Salib di Barat. Kedua,
serangan secara langsung dari orang Mongol yang berasal dari Timur ke wilayah
kekuasaan Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar