Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang melarang perpecahan (iftiraq) dan perselisihan (ikhtilaf), namun apabila kita mencermati, akan tampak oleh kita bahwa yang dimaksud adalah berbeda pendapat dalam masalah-masalah prinsip atau Ushul yang berdampak kepada perpecahan. Adapun berbeda pendapat dalam masalah-masalah cabang agama atau Furu’, maka hal ini tidaklah tercela dan tidak boleh sampai berdampak atau berujung pada perpecahan, karena para sahabat juga berbeda pendapat akan tetapi mereka tetap bersaudara dan saling menghormati satu dengan yang lain tanpa saling menghujat atau melecehkan dan menjatuhkan.
Yang menarik, dalam mengemukakan berbagai pendapatnya, ulama-ulama
Islam, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan
kedewasaan sikap, toleransi, dan objektivitas yang tinggi. Mereka tetap
mendudukkan pendapat mereka di bawah Al Quran dan Hadits, tidak
memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun
datangnya. Dapat dikatakan, mereka telah menganut prinsip relativitas
pengetahuan manusia. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah. Mereka
tidak pernah memposisikan pendapat mereka sebagai yang paling absah
sehingga wajib untuk diikuti, dan menolak pendapat lain sehingga
menganggapnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama.
“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafi’i.
Dalam kerangka yang sama, Imam Ahmad bin Hambal pernah berfatwa agar
imam hendaknya membaca basmalah dengan suara dikeraskan bila memimpin
shalat di Madinah. Fatwa ini bertentangan dengan mazhab Ahmad bin Hambal
sendiri yang menyatakan bahwa yang dianjurkan bagi orang yang shalat
adalah mengecilkan bacaan basmalahnya. Tapi fatwa tersebut dikeluarkan
Ahmad demi menghormati paham ulama-ulama di Madinah waktu itu, yang
memandang sebaliknya. Sebab, menurut ulama-ulama Madinah itu, orang yang
shalat, lebih utama bila ia mengeraskan bacaan basmalahnya. Di sini
kita bisa mengetahui betapa Imam Ahmad lebih mengutamakan sebuah esensi
dari nilai Ukhuwah.
Ada ungkapan yang cukup indah dari Muhammad Rasyid Ridha, “Marilah
kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita
saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan.”
Jadi, kalau Malaikat dan para Nabi saja bisa berbeda pendapat, mengapa kita harus berpecah dan bermusuhan karena perbedaan?
واللهُ أعلم SEMOGA BERMANFAAT !! :)
واللهُ أعلم SEMOGA BERMANFAAT !! :)
