Sabtu, 07 Maret 2015

Aqidah Syiah



SYI’AH!!!
SESATKAH?
Temukan jawabannya didalam makalah ini!!








Di Susun Oleh : Indah Mursyidah
 Kelas : XI-Ipa




KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعا لى. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah صلى الله علىه و سلم . Berkat limpah-Nya dan rahmat-Nya saya mampu menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, dan kawan-kawan sekalian  sehingga kendala-kendala yang saya hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu yang kaitannya dengan Syi’ah, yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh saya dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri saya maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya umat muslim sendiri.






Bogori, 22 Februari 2015

 
    Indah Mursyidah




 

 

 

 

 

DAFTAR ISI






1.      Sejarah Syi’ah

Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.
Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.
Saat itu mereka terbagi menjadi tiga golongan.
  1. Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:

من بدل دينه فاقتلوه

“Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia“
  1. Golongan Sabbah (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri
Golongan Mufadhdhilah, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,
“Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”
Riwayat semacam ini dibawakan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, Umar.
Dalam sejarah syiah mereka terpecah menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian banyak cabang-cabang sekte lainnya.
Dari lima sekte tersebut yang paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.

2.     Syi’ah Rafidhah

            Secara umum, rafidhah adalah kelompok syi’ah yang berdusta mendukung ahlul bait dan salah mempersepsikannya, dengan menolak Abu bakar, Umar dan sebagian besar sahabat Rasulullah   صلى الله علىه و سلم, disertai sikap mengkafirkan dan mencaci mereka karena diklaim bahwa para sahabat telah mengingkari dan menentang nash wasiat penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pasca Rasulullah صلى الله علىه و سلم.
Rafidhah menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada mereka:
“Kalian tinggalkan aku?”
Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).
Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut persangkaan mereka). Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa). Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan diri.
Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123)

3.     Visi Pergerakan dan Persebaran Syi’ah Di Indonesia


4.     Dua Belas Orang Imam Syi’ah

No
Nama
Wafat
1.
Ali bin Abi Thalib
41H/661M
2.
Al-hasan bin Ali bin Abi Thalib
49H/669M
3.
Al-husain bin Ali bin Abi Thalib
61H/980M
4.
Ali bin Al-husain Zainal Abidin
94H/712M
5.
Muhammad bin Ali Al-baqir
113H/731M
6.
Ja’far bin Muhammad Ash-shadiq
146H/765M
7.
Musa bin Ja’far Al-kazhim
128H-203H
8.
Ali bin Musa Ar-ridha
203H/818M
9.
Muhammad bin Ali Al-jawwad
221H/835M
10.
Ali bin Muhammas Al-hadi
254H/868M
11.
Al-hasan bin Ali Al-‘askari
261H/874M
12.
Muhammad bin A-hasan Al-mahdi Al-muntazar
265H/878M

 

 

 

 

 

 

5.     Penyimpangan Ajaran Syi’ah

a.       Penyimpangan faham tentang orisinalitas Al-qur’an

Menurut seorang ulama syi’ah al-mufid dalam kitab awail al-maqalat, dan tokoh syi’ah lain mengatakan bahwa Al-qur’an yang ada pada saat ini tidak orisinil. Al-qur’an yang sekarang sudah mengalami distori, penambahan dan pengurangan.
Pandangan Ulama
Para ulama menyatakan dengan tegas bahwa Alqur’an yang dipegang dan diamalkan umat islam saat ini diseluruh dunia adalah asli, tidak ada penambahan maupun pengurangan, الله سبحانه وتعا لى berfirman :
“Sungguh kami yang telah menurunkan Al-qur’an dan kami pula yang akan menjaganya”                                                                (QS. Al-Hijr: 9)
Keyakinan inilah yang menjadi prinsip umat Islam diseluruh dunia.

b.      Penyimpangan faham tentang Ahli Bait Rasul dan mengkafirkan sahabat Nabi.

Ni’matullah al-jazairi (ulama syi’ah) berkata “Bahwa sayidina Abu bakar, dan sayidina Umar tidak pernah beriman kepada Rasulullah sampai akhir hayatnya.” Ia juga menfitnah “ Abu bakar   رضي الله عنه  telah berbuat syirik dengan memakai kalung berhala saat shalat dibelakang Nabi dan bersujud untuknya.” Sementara al-‘iyasyi dalam tafsirnya, dan al-majlisi dalam bihar al-anwar, menyatakan bahwa meninggalnya Rasulullah صلى الله علىه و سلم karena telah diracunu oleh Aisyah dan Hafsah.”
Di Indonesia, berbagai publikasi syi’ah telah menfitnah, menjelek-jelekan, melaknat, bahkan mengkafirkan sahabat Nabi. Diantaranya :
·         Menyebut Abu bakar dan Umar sebagai iblis (Abbas Rais Kermani, kecuali Ali Al-Huda,2009, hal. 155-156)
·         Melecehkan dan menfitnah Sayyidah Aisyah رضي الله عنها  tidak pantas menjadi ummul mu’minin (ibid, hal. 50-59, 67-69)
·         Para sahabat suka membantah perintah Nabi صلى الله علىه و سلم.
·         Para sahabat merobah-robah agama.
·         Para sahabat murtad (ibid, hal. 4)
Pandangan Ulama
Seluruh umat islam meyakini bahwa seluruh sahabat Rasul adalah orang-orang mulia yang telah dipuji Allah سبحانه وتعا لى dalam Al’qur’an surat at-taubah ayat 100.
“orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah menyediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya selama-lamanya, mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Dalam hadis Rasulullah صلى الله علىه و سلم menegaskan larangan mencela para sahabat Nabi.
“hati-hatilah terhadap sahabat-sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran cacian setelahku, barangsiapa mencintai mereka, maka berarti mereka mencintaiku. Dan barangsiapa yang membenci mereka, maka berarti mereka telah membenciku.” (HR Ahmad)

c.       Penyimpangan Faham Syi’ah Mengkafirkan Umat Islam

Ulama Syi’ah al-Khulaini mengatakan dalam kitabnya, bahwa semua umat Islam selain Syi’ah adalah anak pelacur. Ulama Syi’ah lainnya, Mirza Muhammad Taqi berkata, selain orang Syi’ah akan masuk neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada dan semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka.
Lebih jauh, al-Kulaini berkata, bahwa semua orang yang menganggap Sayidina Abu Bakr dan Sayidina Umar muslim, tidak akan ditengok Allah pada hari kiamat dan dapatkan siksa yang pedih. Padahal mayoritas umat Islam di dunia meyakini kesalehan para sahabat. Ini tidak lain karena mayoritas umat Islam di dunia tidak meyakini rukun imamah.

d.      Penyimpangan Faham tentang Kedudukan Imam Syi’ah

Ajaran Syi’ah menyatakan bahwa para imam mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari para nabi dan rasul. Apakah mungkin imam lebih tinggi derajatnya dari pada nabi dan rasul yang diutus oleh Allah?
Imam khumaini (Ulama Syi’ah)  mengatakan bahwa :
“sesungguhnya imam mempunyai kedudukan yang terpuji, derajat yang mulia dan kepemimpinan mendunia, dimana seisi alam ini tunduk dibawah wilayah dan kekuasaannya. Dan termasuk para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak bias dicapai oleh malaikat muqarrabin atau pun Nabi yang diutus.”
            Pandangan Ulama
            Syaikh Nawawi Banten berkata, “Rukun iman keempat adalah percaya kepada para Rasul Allah. Mereka adalah hamba Allah paling utama,
الله سبحانه وتعا لى berfirman :

و كُلاًّ فضّلنا على العا لمين
“Masing-masing para Rasul itu kami lebihkan derajatnya diatas semua alam."                                                                          
 (QS. Al-An’am : 86)

e.       Penyimpangan Faham tentang Hukum Nikah Mut’ah

Menurut Syi’ah Nikah Mut’ah boleh bahkan akan mendapat pahala yang besar. Ulama Syi’ah menyatakan bahwa nikah Mut’ah (kawin kontrak) tidak perlu dipedulikan apakah si wanita punya suami atau tidak. Boleh juga nikah mut’ah dengan pelacur. Nuri Al-Thabarsi  (Ulama Syi’ah), menjelaskan bahwa nikah mut’ah boleh dilakukan dengan wanita bersuami asal dia mengaku belum punya suami. Ulama besar syi’ah, Al-Khumaini, menjelaskan bahwa boleh melakukan praktek anal sex dengan istri. Nikah mut’ah boleh dilakukan dengan bayi yang masih menyusui.
Bagaimana mungkin nikah mut’ah (kawin kontrak) yang dalam ajaran Islam dilarang malah menjadi suatu ibadah yang mendapat pahala yang besar? Meminang diatas pinangan saudara sendiri saja dalam Islam dilarang, apalagi menikahi wanita yang telah bersuami. Jika praktek nikah mut’ah dilaksanakan, tidak menutup kemungkinan seorang pria atau wanita memiliki pasangan lebih dari empat orang. Yang tentu ini diluar dari ajaran yang ada dalam Islam. Padahal Syi’ah seperti yang kita ketahui meyakini Al-Qur’an sebagai kitab sucinya.
Pandangan Ulama
            Majelis ulama indonesia telah memfatwakan keharaman nikah mut'ah yang ditandatangani pada 22 jumadil akhir 1418 h / 25 oktober 1997 M. menurut MUI, penghalalan nikah bertentangan dengan semangat dan esensi pernikahan seperti yang dijelaskan dalam firman Allah :
“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada isteri-isteri mereka dan bydak yang mereka miliki, maka sesengguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-mu’minun : 5-6)
            Ayat itu menjelaskan bahwa hubungan kelamin hanya dibenarkan  kepada wanita yang berfungsi sebagai istri atau sebagai jariah. Karena akad mut’ah bukan akad nikah, dengan alasan :
·         Tidak saling mewarisi
·         Iddah mut’ah tidak seperti iddah nikah daim.
·         Dengan akad nikah menjadi berkuranglah hak seseorang dalam hubungan dengan kebolehan beristri 4 (ta’addud), dalam mut’ah tidak demikian.
·         Dengan mut’ah, seorang laki-laki dianggap menjadi muhshon, karena wanita yang dinikahi secara mut’ah tidak menjadikannya sebagai isteri atau jariah.

6.     Sejarah Cinta Palsu Syi’ah

Apabila kita membaca sejarah islam, maka sepanjang sejarah itu, tidak akan kita temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas orang syiah terhadap islam dan kaum muslimin, tetapi sebaliknya, yang dibuktikan oleh sejarah adalah :
·         Pembunuhan terhadap khalifah Al-faruq umar bin khatab رضي الله عنه   dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu’lu’ah al-majusi yang diberi gelar oleh syi’ah dengan gelar Baba Syuja’uddin (Pahlawan Agama Sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya oleh mereka.
·         Pembunuhan kkalifah utsman bin affan رضي الله عنه  , telah direncanakan dan dilakukan oleh Abdullah bin Saba’ dan kader-kadernya.
·         Khilafah Abbasiah yang  merupakan khalifah ahlilbait dari keturunan al-abbas bin abdul muthalib dari bani hasyim telah mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum muslimin melalui persekongkolan  dan pengkhianatan  pemimpin-pemimpin mereka.
·         Kerajaan syi’ah shofawiyah di iran telah bersekongkol dengan yahudi, nasrani, dan freemasonry untuk menjatuhkan khilafah utsmaniyah, yang merupakan pembentengan terakhir bagi umay islam dan kaum muslimin.

7.    TABEL PENYIMPANGAN AJARAN SYI’AH DARI AJARAN AHLUSUNNAH

 

 

 

 



8.     Lima poros persebaran syi’ah di Indonesia

1.      Poros Jakarta di Islamic Cultural Center (ICC)

Di wilayah Jabodetabek, sampai pertengahan tahun 2008 terdapat sekitar 20-an lembaga dan yayasan Syi’ah yang aktif melakukan diskusi dan pengajian terbatas. Namun di Jakarta terdapat lembaga bernama Islamic Cultural Center (ICC) yang secara struktural berada di bawah kendali Atase Kebudayaan Kedubes Iran di Jakarta. Lembaga inilah yang diyakini sebagai pusat kendali operasi kegiatan Syi’ah di wilayah Jabodetabek dan bahkan Indonesia.
Islamic Cultural Center (ICC) awalnya didirikan dengan nama Islamic Center Jakarta (ICJ) dan bertujuan memperkenalkan kebudayaan Iran di tengah publik Indonesia. namun dalam perkembangannya berubah menjadi Islamic Cultural Center (ICC), karena sudah mulai memperkenalkan kebudayaan Iran antara lain dengan kursus bahasa Persia yang diselenggarakan gratis.
Islamic Cultural Center (ICC) berkantor pusat di Jl. Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat, Jakarta Selatan 12510, PO. Box 7335 JKSPM 12073, telepon: 021-7996767, fax: 021-7996777. Email: info@icc-Jakarta.com.
Lembaga Syi’ah di wilayah Jabodetabek
1.      Ikatan Pemuda Ahlul Bait Indonesia (IPABI), Bogor
2.      Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta
3.       MPII, Condet, Jakarta
4.       Majelis Taklim Ummu Abiha, pimpinan Hj. Andriyanti
5.       Majelis Taklim Al-Bathul
6.       Majelis Taklim Haurah
7.       Majelis Taklim An-Nur Tangerang
8.       Shaff Muslimin Indonesia, Cawang, Jakarta
9.       Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madina Ilmu, Bogor (Direktur: Abduraahman Abdullah)
10.   Yayasan Al-Ishlah, Jakarta
11.   Yayasan Al-mahdi
12.   Yayasan Al-Muntazhar, Kompleks Taman Kota, Jakarta
13.   Yayasan As-Shodiq
14.   Yayasan Az-Zahra, Jakarta.
15.   Yayasan Babul Ilmi
16.   Yayasan Intan
17.   Yayasan Madinatul Ilmi, Sawangan Depok
18.   Yayasan Fatimah, Jakarta

2.      Poros Pekalongan-Semarang Jawa Tengah

Sejak dulu kota-kota utama di wilayah Pantura memang menjadi pusat konsentrasi komunitas Arab. Untuk kawasan Jawa Tengah, terdapat dua pusat kegiatan Syi’ah yakni Semarang dan Pekalongan. Bahkan komunitas Syi’ah di Semarang secara terbuka melakukan shalat Jum’at ala Syi’ah di musholla Al-Husainiyah, Nurul Tsaqalain yang terletak di Jl. Book Lama No. 2 Semarang Utara. Masjid ini dikelola oleh Yayasan Nurul Tsaqalain yang diketuai oleh Achmad Alatas.
Sementara Ponpes Al-Hadi di Pekalongan yang dipimpin oleh Ahmad Baraqbah merupakan satu-satunya Ponpes yang dikelola dengan sistem pendidikan ala Hawzah Ilmiyah di Qom, Iran. Seluruh mata pelajaran adalah bidang agama. Komunitas Syi’ah Pekalongan umumnya berdomisili di kampung Arab yang terkonsentrasi di tiga kelurahan: Klego, Krapyak, dan Sugih Waras, kota Pekalongan Timur. Penganut Syi’ah Pekalongan memang didominasi keturunan Arab, tapi ada juga beberapa waga asli Indonesia.
Ponpes Al-Hadi Pekalongan didirikan pada tahun 1409 H/1988 M beralamat di Jl. agus Salim, Gang 5 No. 4 RT 01 RW 03, Kelurahan Klego, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Lokasinya terletak di tengah kota di wilayah yang dikenal dengan kampung Arab dengan luas lahan sekitar 1,5 hektar. Ponpes ini dikelilingi 3 ruas jalan utama, namun tidak terdapat plang nama Ponpes Al-Hadi. Sehingga tidak aneh, jika warga Pekalongan non-Arab jarang yang mengenalnya.
Yang menarik tidak ada bangunan masjid di dalam lokasi pondok. Acara Kumail yang biasa dilakukan tiap malam Jum’at juga tidak dilaksanakan di dalam pondok, tapi disebuah rumah di belakang yang terpisah dari pondok.
Pada tahun 1998 Ponpes Al-Hadi mendirikan cabang di lahan seluas 6.500 m2 terletak di desa Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. rencananya, cabang itu dikhususkan untuk santri putra, sementara santri putri tetap di Pekalongan. Namun ia hanya efektif berjalan selama 2 tahun (1998-2000) sebab diprotes oleh warga di sekitar Ponpes karena dituding menyebarkan aliran sesat, dan akhirnya ditutup pada tahun 2000. Sebagian besar biaya pembangunan Ponpes Al-Hadi baik di Pekalongan dan Batang itu diperoleh dari luar negeri, khususnya dari Iran, Lebanon, dan komunitas Syi’ah lainnya di Arab Saudi dan Bahrain.
Tidak ada data yang pasti tentang jumlah komunitas Syi’ah di Pekalongan. Namun, dalam acara ritual Kumail cuma dihadiri sekitar 40 orang laki-laki. Jumlah santri di Ponpes Ak\l-Hadi juga hanya sekitar 60-an santri, putra dan putri.

3.      Poros Yogyakarta

Salah satu penggerak kegiatan Syi’ah di Yogyakarta adalah Yayasan Rausyan Fikr. Dibandingkan dengan pusat kegiatan Syi’ah lainnya, Rausyan Fikr termasuk yang paling agresif dalam melakukan kegiatan. Pengajian dilaksanakan setiap hari, dengan tema yang beragam. Di Yogya juga terdapat organisasi Syi’ah yang dimotori oleh kelompok muda Alawiyin yang tergabung dalam perkumpulan Al-Amin, dan sudah melangkah lebih jauh.
Meskipun sebagian anggota Al-Amin keberatan disebut organisasi Syia’h. Kelompok Al-Amin ini berawal dari ajang silaturahim perkumpulan sayyid dan syarifah perantau dari berbagai daerah di tanah air yang menuntut ilmu di Yogyakarta, dan cukup solid menggelola organisasinya.
Lembaga Syi’ah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
  1. Forum Wasiat, Tegal
  2. Ponpes Al-Hadi, Pekalongan
  3. Yayasan Al-Amin, Yogyakarta
  4. Yayasan Al-Amin, Semarang
  5. Yayasan Nurul Tsaqalain, Semarang Utara
  6. Yayasan Al-Khairat, Demak
  7. Yayasan Al-Mawaddah, Kendal
  8. Yayasan al-Muhibbin, Probolinggo
  9. Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo
  10. Yayasan Al-Mustafa, Pekalongan
  11. Yayasan Al-Wahdah, Solo
  12. Yayasan Dar Taqrib, Jepara
  13. Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo
  14. Yayasan Rausyan Fikr, Yogyakarta

4.      Poros Bangil dan Pasuruan

Poros ini merupakan salah satu kunci peredaran faham Syi'ah di seluruh Indonesia. Hampir semua tokoh muda SYi'ah di Indonesia yang berusia antara 40-50 tahun, pernah mengenyam pendidikan di poros ini.

Penyebaran Syi'ah ke di poros Bangil tak lepas dari peran ponpes Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Bangil yang didirikan oleh Ustadz Husein bin Abu Bakar al-Habsyi paa 21 Juni 1976. Pada tahun 1997-1998 ponpes ini menawarkan pendidikan terpadu secara khusus dengan kurikulum pesantren dan berijazah S-1. Selain itu, membuka jalur pendidikan untuk tingkat kanak-kanak, SD, SMP hingga SMA.

Sedangkan di Pasuruan, peran penyebaran Syi'ah bermarkas di Yayasan al-Itrah yang berdiri sejak tahun 1996 yang didirikan oleh Ali Umar al-Habsyi dan Sayyid Abdullah al-Haddad. Pada tahun 2006, yayasan ini membentuk kepengurusan baru yang dipimpin oleh Ali Ridho Assegaf.

Lembaga Syi’ah di jawa Timur

1.      Majelis Taklim Al-alawi, Probolinggo
2.      Yayasan Al-baqir, Jawa timur
3.      Yayasan Al-hasyim, Surabaya
4.      Yayasan Al-hujjah, Jember
5.      Yayasan Al-iffah, Jember
6.      Yayasan Al-itrah, Bangil
7.      Yayasan Al-itrah, Jember
8.      Yayasan Al-kautsar, Jawa timur
9.      Yayasan Al-mahdi, Jember
10.  Yayasan Al-muhibbin, Probolinggo
11.  Yayasan Al-qaim, Surabaya
12.  Yayasan Al-yassin, Surabaya
13.  Yayasan At-taqi Pasuruan
14.  Yayasan Az-zahra, Malang
15.  Yayasan Ja’far shadiq, Bondowoso
16.  Ponpes Yapi Bangil
17.  Yapisma, Malang

5.      Poros Bandung

Penggerak poros Syi'ah di Kota Kembang ini adalah Jalaluddin Rakhmat melalui organisasi IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bat Indonesia). IJABI merupakan organisasi Syi'ah yang paling agresif dalam mengembangkan sayapnya. Mereka disebutkan memiliki kepengurusan hingga tingkat kecamatan. Komunitas Syi'ah Bandung sendiri didominasi oleh non-Arab.

Selain IJABI, ada juga al-Jawwad dan Yayasan Sepuluh Muharram (YSM) serta Yayasan Muthahhari. Yayasan ini menyelenggarakn pendidikan untuk kaum miskin dan digratiskan,ada juga yang dikelola secara profesional untuk sesama anggota Syi'ah dan kalangan berduit.

Lembaga Syi’ah di Jawa Barat
1.      Majelis Taklim Al-Idrus, Purwakarta.
2.      Majelis Taklim Al-Jawad, Tasikmalayaز
3.      Yayasan Sepuluh Muharram (YSM), Desa Margamukti Pengalengan Kab. Bandung.   
4.      Yayasan Al-Baro’ah, Tasikmalaya.  
5.      Yayasan Al-Jawwad, Geger Kalong Girang, No. 92 Bandung.    
6.      Yayasan Al-Kadzim, Cirebon.    
7.      Yayasan As-Shadiq, Bandung.    
8.      Yayasan As-Salam, Majalengka.    
9.      Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta.   
10.   Yayasan Al-Mukarramah, Bandung.   
11.   Yayasan Muthahhari, Bandung.    
12.  Yayasan Saifik, Bandung.

  9.  RADIO/TV Syi’ah Di Indonesia

·         Shiatv.net
·         IRIB (radio Iran siaran bahasa Indonesia)
·         Hadi TV, (www.haditv.com)
·         Myshiatv.com
·         Tv Al-manar, Hizbullah – Lebanon, di akses sejak April 2008  bekerjasama dengan INDOSAT

10.  Situs-situs  Web Komunitas Syi’ah di Indonesia

  1. http://www.islammuhammadi.com/
  2. http://islamsyi'ah.wordpress.com
  3. info@icc-jakarta.com
  4. www.infosyi'ah.com
  5. www.infosyi'ah.wordpress.com
  6. www.muhsinlabib.wordpress.com
  7. www.majulah-ijabi.org
  8. www.ahlulbaitIndonesia.org
  9. http://syi'ahali.wordpress.com
  10. http://syi'ahahlulbait.wordpress.com
  11. www.syi'ah.co
  12. http://abatasyah.,net
  13. www.jalal-center.com
  14. www.fatimah.org
  15. www.icc-jakarta.org
  16. www.babilm.4t.com
  17. http://ahl-lul-bait.org
  18. http://ahmadsamantho.wordpress.com
  19. www.islamalternatif.net
  20. www.icas-indonesia.org
  21. http://islamfeminis.wordpress.com
  22. http://wisdoms4all.com/ind/
  23. www.yapibangil.org
  24. www.alitrah.com

 11.  Lembaga Penerbitan Syi'ah di Indonesia

1.      buletin Al jawad, Bandung
2.      buletin Al ghadir
3.      buletin Al tanwir
4.      jurnal Al huda
5.      Majalah Al hikmah
6.      majalah Al huda , diterbitkan oleh ICC Jakarta
7.      majalah Al mawaddah
8.      majalah Al mustafa
9.      majalah yaum al quds
10.  penerbit Al baqir
11.  penerbit Al bayan
12.  penerbit Al hadi 
13.  penerbit Al jawad
14.  penerbit Al muntazhar
15.  penerbit As-sajjad
16.  penerbit Al-tsaqalain
17.  penerbit CITRA
18.  penerbit CV firdaus
19.  penerbit Duta Ilmu
20.  penerbit Gua hira
21.  penerbit ICC-Al huda
22.  penerbit Mahdi
23.  penerbit Mizan
24.  penerbit  Majelis ta'lim Amben
25.  penerbit Mulla Shadra
26.  penerbit Muthahhari press
27.  penerbit Pintu Ilmu
28.  penerbit Pustaka Hidayah
29.  penerbit Qonaah
30.  penerbit Risalah Masa
31.  penerbit Ulsa Press
32.  penerbit YAPI Jakarta
33.  penerbit Yayasan Safinatun Najah
34. penerbit Al-Kautsar*



      * PUSTAKA AL-KAUTSAR BERBEDA DENGAN AL-KAUTSAR
 
PUSTAKA AL-KAUTSAR = Sunni
  AL-KAUTSAR = Syiah

12.  Siapa Bilang Syi’ah Tidak Sesat?

Bukti Autentik Kesesatan Syi’ah
1.      Syi’ah Rafidhah mengatakan bahwa Al-qur’an yang ada ditangan kaum muslimin (Ahlus Sunnah) berbeda dengan Al-qur’an versi Ahlul Bait.
2.      Orang Syi’ah Rafidhah telah mengkafirkan  para sahabat terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab رضي الله عنهما  .
3.      Orang Syi’ah mendo’akan laktat atas Abu Bakar dan Umar. Yang berbunyi :
“ Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Ya Allah laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu bakar dan Umar), dan thagut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkan perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkirbalikab agama-Mu, mengubah kitab-Mu,… dsb.”
4.      Orang Syi’ah Rafidhah tidak menggunakan riwayat Ahlus Sunnah.
5.      Orang Syi’ah dalam hal ini diwakilkan Ayatusi Syi’ah Khomeini menyatakan bahwa Rasulullah صلى الله علىه و سلم telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat.
6.      Orang Syi’ah mengkafirkan Ahlussunnah.
7.      Shalat orang Syi’ah berbeda dengan shalat Ahlussunnah.
8.      Orang Syi’ah telah berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) kepada imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada tahap “menuhankan”  mereka.

13.  KRITERIA “SESAT” VERSI MUI

1.      Mengingkari rukun iman dan rukun islam.
2.      Mengikuti atau meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-qur’an dan As-Sunnah).
3.      Meyakini turunnya wahyu setelah Al-qur’an.
4.      Mengingkari autentisitas atau kebenaran isi Al-qur’an.
5.      Menafsirkan Al-qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
6.      Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber Ajaran Islam.
7.      Melecehkan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
8.      Mengingkari Nabi Muhammad صلى الله علىه و سلم sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
9.      Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syari’ah.
10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.
Dari sepuluh kriteria diatas, syi’ah mempunyai delapan diantaranya.
MASIH MAU BILANG BAHWA SYI’AH TIDAK SESAT?





 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BUKU MUI : Mengenal dan mewaspadai penyimpangan syi’ah di Indonesia.




Tidak ada komentar: