

SYI’AH!!!
SESATKAH?
Temukan
jawabannya didalam makalah ini!!
Di
Susun Oleh : Indah
Mursyidah
Kelas : XI-Ipa
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعا لى. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah صلى الله علىه و
سلم . Berkat limpah-Nya dan rahmat-Nya saya
mampu menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan
yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan,
dan bimbingan orang tua, dan kawan-kawan sekalian sehingga kendala-kendala yang saya hadapi
teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu yang
kaitannya dengan Syi’ah, yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh saya
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri saya maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya umat muslim sendiri.
Bogori, 22 Februari 2015
Indah Mursyidah
Indah Mursyidah
DAFTAR ISI
1. Sejarah Syi’ah
Syiah mulai muncul setelah
pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar,
masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal
jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir
kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya
perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh
Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.
Pada masa kekhalifahan Ali juga
muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka,
mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.
Saat itu mereka terbagi menjadi
tiga golongan.
- Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:
من بدل دينه فاقتلوه
“Barangsiapa
yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia“
- Golongan Sabbah (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri
Golongan Mufadhdhilah,
yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah
diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,
“Sebaik-baik
umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”
Riwayat semacam ini dibawakan oleh
imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia
bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia
menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, Umar.
Dalam sejarah syiah mereka terpecah
menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah),
Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian
banyak cabang-cabang sekte lainnya.
Dari lima sekte tersebut yang
paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak
dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan
kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan
berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran
yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.
2. Syi’ah Rafidhah
Secara
umum, rafidhah adalah kelompok syi’ah yang berdusta mendukung ahlul bait dan
salah mempersepsikannya, dengan menolak Abu bakar, Umar dan sebagian besar
sahabat Rasulullah صلى الله علىه و سلم, disertai sikap mengkafirkan
dan mencaci mereka karena diklaim bahwa para sahabat telah mengingkari dan
menentang nash wasiat penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pasca
Rasulullah صلى الله علىه و
سلم.
Rafidhah
menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat
bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri
dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.
Abdullah bin
Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah
itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr
dan Umar.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah)
Sebutan
“Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu
Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik
bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Syaikh Abul
Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di
tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian
mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga
akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan
kepada mereka:
“Kalian tinggalkan aku?”
Maka dikatakanlah bahwa penamaan
mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.”
(Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).
Pencetus paham syiah ini adalah
seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’
al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Abdullah bin Saba’ mengenalkan
ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan
bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan
Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(menurut persangkaan mereka). Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar,
Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa,
4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali,
dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia
adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa). Keyakinan itu
berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin
Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi
bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka
melarikan diri.
3. Visi Pergerakan dan Persebaran Syi’ah Di Indonesia
4. Dua Belas Orang Imam Syi’ah
No
|
Nama
|
Wafat
|
1.
|
Ali bin Abi Thalib
|
41H/661M
|
2.
|
Al-hasan bin Ali bin Abi Thalib
|
49H/669M
|
3.
|
Al-husain bin Ali bin Abi Thalib
|
61H/980M
|
4.
|
Ali bin Al-husain Zainal Abidin
|
94H/712M
|
5.
|
Muhammad bin Ali Al-baqir
|
113H/731M
|
6.
|
Ja’far bin Muhammad Ash-shadiq
|
146H/765M
|
7.
|
Musa bin Ja’far Al-kazhim
|
128H-203H
|
8.
|
Ali bin Musa Ar-ridha
|
203H/818M
|
9.
|
Muhammad bin Ali Al-jawwad
|
221H/835M
|
10.
|
Ali bin Muhammas Al-hadi
|
254H/868M
|
11.
|
Al-hasan bin Ali Al-‘askari
|
261H/874M
|
12.
|
Muhammad bin A-hasan Al-mahdi Al-muntazar
|
265H/878M
|
5. Penyimpangan Ajaran Syi’ah
a. Penyimpangan faham tentang orisinalitas Al-qur’an
Menurut seorang ulama syi’ah al-mufid dalam kitab awail al-maqalat, dan
tokoh syi’ah lain mengatakan bahwa Al-qur’an yang ada pada saat ini tidak
orisinil. Al-qur’an yang sekarang sudah mengalami distori, penambahan dan
pengurangan.
Pandangan Ulama
Para ulama
menyatakan dengan tegas bahwa Alqur’an yang dipegang dan diamalkan umat islam
saat ini diseluruh dunia adalah asli, tidak ada penambahan maupun pengurangan,
الله سبحانه
وتعا لى
berfirman :
“Sungguh kami
yang telah menurunkan Al-qur’an dan kami pula yang akan menjaganya” (QS.
Al-Hijr: 9)
Keyakinan
inilah yang menjadi prinsip umat Islam diseluruh dunia.
b. Penyimpangan faham tentang Ahli Bait Rasul dan mengkafirkan sahabat Nabi.
Ni’matullah
al-jazairi (ulama syi’ah) berkata “Bahwa sayidina Abu bakar, dan sayidina Umar
tidak pernah beriman kepada Rasulullah sampai akhir hayatnya.” Ia juga
menfitnah “ Abu
bakar رضي
الله عنه telah berbuat syirik dengan memakai
kalung berhala saat shalat dibelakang Nabi dan bersujud untuknya.” Sementara
al-‘iyasyi dalam tafsirnya, dan al-majlisi dalam bihar al-anwar, menyatakan
bahwa meninggalnya Rasulullah صلى الله علىه و سلم
karena telah diracunu oleh Aisyah dan Hafsah.”
Di Indonesia,
berbagai publikasi syi’ah telah menfitnah, menjelek-jelekan, melaknat, bahkan
mengkafirkan sahabat Nabi. Diantaranya :
·
Menyebut Abu bakar dan Umar sebagai iblis
(Abbas Rais Kermani, kecuali Ali Al-Huda,2009, hal. 155-156)
·
Melecehkan dan menfitnah Sayyidah Aisyah رضي الله عنها tidak pantas
menjadi ummul mu’minin (ibid, hal. 50-59, 67-69)
·
Para sahabat suka membantah perintah Nabi صلى الله علىه و سلم.
·
Para sahabat merobah-robah agama.
·
Para sahabat murtad (ibid, hal. 4)
Pandangan Ulama
Seluruh umat
islam meyakini bahwa seluruh sahabat Rasul adalah orang-orang mulia yang telah
dipuji Allah سبحانه وتعا لى
dalam Al’qur’an surat at-taubah ayat 100.
“orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) dari golongan muhajirin
dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah menyediakan surga-surga yang
mengalir sungai-sungai didalamnya selama-lamanya, mereka kekal didalamnya.
Itulah kemenangan yang besar.”
Dalam hadis
Rasulullah صلى الله علىه و
سلم
menegaskan larangan mencela para sahabat Nabi.
“hati-hatilah
terhadap sahabat-sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sasaran cacian
setelahku, barangsiapa mencintai mereka, maka berarti mereka mencintaiku. Dan
barangsiapa yang membenci mereka, maka berarti mereka telah membenciku.” (HR
Ahmad)
c. Penyimpangan Faham Syi’ah Mengkafirkan Umat Islam
Ulama Syi’ah al-Khulaini mengatakan dalam
kitabnya, bahwa semua umat Islam selain Syi’ah adalah anak pelacur. Ulama
Syi’ah lainnya, Mirza Muhammad Taqi berkata, selain orang Syi’ah akan masuk
neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada dan
semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka.
Lebih jauh, al-Kulaini berkata, bahwa semua
orang yang menganggap Sayidina Abu Bakr dan Sayidina Umar muslim, tidak akan
ditengok Allah pada hari kiamat dan dapatkan siksa yang pedih. Padahal
mayoritas umat Islam di dunia meyakini kesalehan para sahabat. Ini tidak lain
karena mayoritas umat Islam di dunia tidak meyakini rukun imamah.
d. Penyimpangan Faham tentang Kedudukan Imam Syi’ah
Ajaran Syi’ah menyatakan bahwa para imam
mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari para nabi dan rasul. Apakah
mungkin imam lebih tinggi derajatnya dari pada nabi dan rasul yang diutus oleh
Allah?
Imam khumaini (Ulama Syi’ah) mengatakan bahwa :
“sesungguhnya imam mempunyai kedudukan yang
terpuji, derajat yang mulia dan kepemimpinan mendunia, dimana seisi alam ini
tunduk dibawah wilayah dan kekuasaannya. Dan termasuk para imam kita mempunyai
kedudukan yang tidak bias dicapai oleh malaikat muqarrabin atau pun Nabi yang
diutus.”
Pandangan
Ulama
Syaikh Nawawi Banten berkata,
“Rukun iman keempat adalah percaya kepada para Rasul Allah. Mereka adalah hamba Allah paling utama,
الله سبحانه وتعا لى berfirman :
و كُلاًّ فضّلنا على العا لمين
“Masing-masing para
Rasul itu kami lebihkan derajatnya diatas semua alam."
(QS. Al-An’am : 86)
(QS. Al-An’am : 86)
e. Penyimpangan Faham tentang Hukum Nikah Mut’ah
Menurut Syi’ah Nikah Mut’ah boleh bahkan akan mendapat
pahala yang besar. Ulama Syi’ah menyatakan bahwa nikah Mut’ah (kawin kontrak)
tidak perlu dipedulikan apakah si wanita punya suami atau tidak. Boleh juga
nikah mut’ah dengan pelacur. Nuri Al-Thabarsi (Ulama Syi’ah),
menjelaskan bahwa nikah mut’ah boleh dilakukan dengan wanita bersuami asal dia
mengaku belum punya suami. Ulama besar syi’ah, Al-Khumaini, menjelaskan bahwa
boleh melakukan praktek anal sex dengan istri. Nikah mut’ah boleh dilakukan
dengan bayi yang masih menyusui.
Bagaimana mungkin nikah mut’ah (kawin kontrak)
yang dalam ajaran Islam dilarang malah menjadi suatu ibadah yang mendapat
pahala yang besar? Meminang diatas pinangan saudara sendiri saja dalam Islam
dilarang, apalagi menikahi wanita yang telah bersuami. Jika praktek nikah mut’ah
dilaksanakan, tidak menutup kemungkinan seorang pria atau wanita memiliki
pasangan lebih dari empat orang. Yang tentu ini diluar dari ajaran yang ada
dalam Islam. Padahal Syi’ah seperti yang kita ketahui meyakini Al-Qur’an
sebagai kitab sucinya.
Pandangan Ulama
Majelis
ulama indonesia telah memfatwakan keharaman nikah mut'ah yang ditandatangani
pada 22 jumadil akhir 1418 h / 25 oktober 1997 M. menurut MUI, penghalalan
nikah bertentangan dengan semangat dan esensi pernikahan seperti yang
dijelaskan dalam firman Allah :
“dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali kepada isteri-isteri mereka dan bydak yang mereka miliki,
maka sesengguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-mu’minun : 5-6)
Ayat
itu menjelaskan bahwa hubungan kelamin hanya dibenarkan kepada wanita yang berfungsi sebagai istri
atau sebagai jariah. Karena akad
mut’ah bukan akad nikah, dengan alasan :
·
Tidak saling mewarisi
·
Iddah mut’ah tidak seperti iddah nikah daim.
·
Dengan akad nikah menjadi berkuranglah hak seseorang dalam hubungan
dengan kebolehan beristri 4 (ta’addud), dalam mut’ah tidak demikian.
·
Dengan mut’ah, seorang laki-laki dianggap menjadi muhshon, karena
wanita yang dinikahi secara mut’ah tidak menjadikannya sebagai isteri atau
jariah.
6. Sejarah Cinta Palsu Syi’ah
Apabila kita membaca sejarah islam, maka sepanjang sejarah itu,
tidak akan kita temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas orang
syiah terhadap islam dan kaum muslimin, tetapi sebaliknya, yang dibuktikan oleh
sejarah adalah :
·
Pembunuhan
terhadap khalifah Al-faruq umar bin khatab رضي الله عنه dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu’lu’ah
al-majusi yang diberi gelar oleh syi’ah dengan gelar Baba Syuja’uddin
(Pahlawan Agama Sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya
oleh mereka.
·
Pembunuhan
kkalifah utsman bin affan رضي الله
عنه , telah direncanakan dan dilakukan oleh
Abdullah bin Saba’ dan kader-kadernya.
·
Khilafah
Abbasiah yang merupakan khalifah
ahlilbait dari keturunan al-abbas bin abdul muthalib dari bani hasyim telah
mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum muslimin melalui
persekongkolan dan pengkhianatan pemimpin-pemimpin mereka.
·
Kerajaan
syi’ah shofawiyah di iran telah bersekongkol dengan yahudi, nasrani, dan
freemasonry untuk menjatuhkan khilafah utsmaniyah, yang merupakan pembentengan
terakhir bagi umay islam dan kaum muslimin.
7. TABEL PENYIMPANGAN AJARAN SYI’AH DARI AJARAN AHLUSUNNAH
8. Lima poros persebaran syi’ah di Indonesia
1. Poros Jakarta di Islamic Cultural Center (ICC)
Di wilayah Jabodetabek, sampai pertengahan
tahun 2008 terdapat sekitar 20-an lembaga dan yayasan Syi’ah yang aktif
melakukan diskusi dan pengajian terbatas. Namun di Jakarta terdapat lembaga
bernama Islamic Cultural Center (ICC) yang secara struktural berada di bawah
kendali Atase Kebudayaan Kedubes Iran di Jakarta. Lembaga inilah yang diyakini
sebagai pusat kendali operasi kegiatan Syi’ah di wilayah Jabodetabek dan bahkan
Indonesia.
Islamic Cultural Center (ICC) awalnya didirikan
dengan nama Islamic Center Jakarta (ICJ) dan bertujuan memperkenalkan
kebudayaan Iran di tengah publik Indonesia. namun dalam perkembangannya berubah
menjadi Islamic Cultural Center (ICC), karena sudah mulai memperkenalkan
kebudayaan Iran antara lain dengan kursus bahasa Persia yang diselenggarakan
gratis.
Islamic Cultural Center (ICC) berkantor pusat
di Jl. Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat, Jakarta Selatan 12510, PO. Box 7335
JKSPM 12073, telepon: 021-7996767, fax: 021-7996777. Email: info@icc-Jakarta.com.
Lembaga Syi’ah di wilayah
Jabodetabek
1. Ikatan Pemuda
Ahlul Bait Indonesia (IPABI), Bogor
2.
Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta
3.
MPII,
Condet, Jakarta
4.
Majelis
Taklim Ummu Abiha, pimpinan Hj. Andriyanti
5.
Majelis
Taklim Al-Bathul
6.
Majelis
Taklim Haurah
7.
Majelis
Taklim An-Nur Tangerang
8.
Shaff
Muslimin Indonesia, Cawang, Jakarta
9.
Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) Madina Ilmu, Bogor (Direktur: Abduraahman Abdullah)
10.
Yayasan
Al-Ishlah, Jakarta
11.
Yayasan
Al-mahdi
12. Yayasan Al-Muntazhar, Kompleks Taman Kota,
Jakarta
13.
Yayasan
As-Shodiq
14. Yayasan Az-Zahra, Jakarta.
15. Yayasan Babul Ilmi
16. Yayasan Intan
17. Yayasan Madinatul Ilmi, Sawangan Depok
18. Yayasan Fatimah, Jakarta
2. Poros Pekalongan-Semarang Jawa Tengah
Sejak dulu kota-kota utama di wilayah Pantura memang menjadi
pusat konsentrasi komunitas Arab. Untuk kawasan Jawa Tengah, terdapat dua pusat
kegiatan Syi’ah yakni Semarang dan Pekalongan. Bahkan komunitas Syi’ah di
Semarang secara terbuka melakukan shalat Jum’at ala Syi’ah di musholla
Al-Husainiyah, Nurul Tsaqalain yang terletak di Jl. Book Lama No. 2 Semarang
Utara. Masjid ini dikelola oleh Yayasan Nurul Tsaqalain yang diketuai oleh
Achmad Alatas.
Sementara Ponpes Al-Hadi di Pekalongan yang dipimpin oleh Ahmad
Baraqbah merupakan satu-satunya Ponpes yang dikelola dengan sistem pendidikan
ala Hawzah Ilmiyah di Qom, Iran. Seluruh mata pelajaran adalah bidang agama.
Komunitas Syi’ah Pekalongan umumnya berdomisili di kampung Arab yang
terkonsentrasi di tiga kelurahan: Klego, Krapyak, dan Sugih Waras, kota
Pekalongan Timur. Penganut Syi’ah Pekalongan memang didominasi keturunan Arab,
tapi ada juga beberapa waga asli Indonesia.
Ponpes Al-Hadi Pekalongan didirikan pada tahun 1409 H/1988 M beralamat di Jl. agus
Salim, Gang 5 No. 4 RT 01 RW 03, Kelurahan Klego, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Lokasinya terletak di tengah kota di wilayah yang dikenal dengan kampung Arab
dengan luas lahan sekitar 1,5 hektar. Ponpes ini dikelilingi 3 ruas jalan
utama, namun tidak terdapat plang nama Ponpes Al-Hadi. Sehingga tidak aneh,
jika warga Pekalongan non-Arab jarang yang mengenalnya.
Yang menarik tidak ada bangunan masjid di dalam lokasi
pondok. Acara Kumail yang biasa dilakukan tiap malam Jum’at juga tidak
dilaksanakan di dalam pondok, tapi disebuah rumah di belakang yang terpisah
dari pondok.
Pada tahun 1998 Ponpes Al-Hadi mendirikan cabang di lahan
seluas 6.500 m2 terletak di desa Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten
Batang, Jawa Tengah. rencananya, cabang itu dikhususkan untuk santri putra,
sementara santri putri tetap di Pekalongan. Namun ia hanya efektif berjalan
selama 2 tahun (1998-2000) sebab diprotes oleh warga di sekitar Ponpes karena
dituding menyebarkan aliran sesat, dan akhirnya ditutup pada tahun 2000.
Sebagian besar biaya pembangunan Ponpes Al-Hadi baik di Pekalongan dan Batang
itu diperoleh dari luar negeri, khususnya dari Iran, Lebanon, dan komunitas
Syi’ah lainnya di Arab Saudi dan Bahrain.
Tidak ada data yang pasti tentang jumlah komunitas Syi’ah di
Pekalongan. Namun, dalam acara ritual Kumail cuma dihadiri sekitar 40 orang
laki-laki. Jumlah santri di Ponpes Ak\l-Hadi juga hanya sekitar 60-an santri,
putra dan putri.
3. Poros Yogyakarta
Salah satu penggerak kegiatan Syi’ah di Yogyakarta adalah
Yayasan Rausyan Fikr. Dibandingkan dengan pusat kegiatan Syi’ah lainnya,
Rausyan Fikr termasuk yang paling agresif dalam melakukan kegiatan. Pengajian
dilaksanakan setiap hari, dengan tema yang beragam. Di Yogya juga terdapat
organisasi Syi’ah yang dimotori oleh kelompok muda Alawiyin yang tergabung
dalam perkumpulan Al-Amin, dan sudah melangkah lebih jauh.
Meskipun sebagian anggota Al-Amin keberatan disebut
organisasi Syia’h. Kelompok Al-Amin ini berawal dari ajang silaturahim
perkumpulan sayyid dan syarifah perantau dari berbagai daerah di tanah air yang
menuntut ilmu di Yogyakarta, dan cukup solid menggelola organisasinya.
Lembaga Syi’ah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
- Forum Wasiat, Tegal
- Ponpes Al-Hadi, Pekalongan
- Yayasan Al-Amin, Yogyakarta
- Yayasan Al-Amin, Semarang
- Yayasan Nurul Tsaqalain, Semarang Utara
- Yayasan Al-Khairat, Demak
- Yayasan Al-Mawaddah, Kendal
- Yayasan al-Muhibbin, Probolinggo
- Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo
- Yayasan Al-Mustafa, Pekalongan
- Yayasan Al-Wahdah, Solo
- Yayasan Dar Taqrib, Jepara
- Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo
- Yayasan Rausyan Fikr, Yogyakarta
4. Poros Bangil dan Pasuruan
Poros ini merupakan salah satu kunci peredaran
faham Syi'ah di seluruh Indonesia. Hampir semua tokoh muda SYi'ah di Indonesia
yang berusia antara 40-50 tahun, pernah mengenyam pendidikan di poros ini.
Penyebaran Syi'ah ke di poros Bangil tak lepas
dari peran ponpes Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Bangil yang didirikan oleh
Ustadz Husein bin Abu Bakar al-Habsyi paa 21 Juni 1976. Pada tahun 1997-1998
ponpes ini menawarkan pendidikan terpadu secara khusus dengan kurikulum
pesantren dan berijazah S-1. Selain itu, membuka jalur pendidikan untuk tingkat
kanak-kanak, SD, SMP hingga SMA.
Sedangkan di Pasuruan, peran penyebaran Syi'ah
bermarkas di Yayasan al-Itrah yang berdiri sejak tahun 1996 yang didirikan oleh
Ali Umar al-Habsyi dan Sayyid Abdullah al-Haddad. Pada tahun 2006, yayasan ini
membentuk kepengurusan baru yang dipimpin oleh Ali Ridho Assegaf.
Lembaga Syi’ah di jawa
Timur
1.
Majelis Taklim Al-alawi, Probolinggo
2. Yayasan Al-baqir, Jawa timur
3. Yayasan Al-hasyim, Surabaya
4. Yayasan Al-hujjah, Jember
5. Yayasan Al-iffah, Jember
6. Yayasan Al-itrah, Bangil
7. Yayasan Al-itrah, Jember
8. Yayasan Al-kautsar, Jawa timur
9. Yayasan Al-mahdi, Jember
10. Yayasan Al-muhibbin, Probolinggo
11. Yayasan Al-qaim, Surabaya
12. Yayasan Al-yassin, Surabaya
13. Yayasan At-taqi Pasuruan
14. Yayasan Az-zahra, Malang
15. Yayasan Ja’far shadiq, Bondowoso
16. Ponpes Yapi Bangil
17. Yapisma, Malang
5. Poros Bandung
Penggerak poros Syi'ah di Kota Kembang ini adalah Jalaluddin
Rakhmat melalui organisasi IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bat Indonesia). IJABI
merupakan organisasi Syi'ah yang paling agresif dalam mengembangkan sayapnya.
Mereka disebutkan memiliki kepengurusan hingga tingkat kecamatan. Komunitas
Syi'ah Bandung sendiri didominasi oleh non-Arab.
Selain IJABI, ada juga al-Jawwad dan Yayasan Sepuluh
Muharram (YSM) serta Yayasan Muthahhari. Yayasan ini menyelenggarakn pendidikan
untuk kaum miskin dan digratiskan,ada juga yang dikelola secara profesional
untuk sesama anggota Syi'ah dan kalangan berduit.
Lembaga Syi’ah di Jawa Barat
1. Majelis Taklim Al-Idrus, Purwakarta.
2. Majelis Taklim Al-Jawad, Tasikmalayaز
3. Yayasan Sepuluh Muharram (YSM), Desa
Margamukti Pengalengan Kab. Bandung.
4. Yayasan Al-Baro’ah, Tasikmalaya.
5. Yayasan Al-Jawwad, Geger Kalong Girang, No.
92 Bandung.
6. Yayasan Al-Kadzim, Cirebon.
7. Yayasan As-Shadiq, Bandung.
8. Yayasan As-Salam, Majalengka.
9. Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta.
10. Yayasan
Al-Mukarramah, Bandung.
11. Yayasan Muthahhari, Bandung.
12. Yayasan Saifik, Bandung.
9. RADIO/TV Syi’ah Di Indonesia
·
Shiatv.net
·
IRIB (radio Iran siaran bahasa Indonesia)
·
Myshiatv.com
·
Tv Al-manar, Hizbullah – Lebanon, di akses sejak April 2008 bekerjasama dengan INDOSAT
10. Situs-situs Web Komunitas Syi’ah di Indonesia
- http://www.islammuhammadi.com/
- http://islamsyi'ah.wordpress.com
- info@icc-jakarta.com
- www.infosyi'ah.com
- www.infosyi'ah.wordpress.com
- www.muhsinlabib.wordpress.com
- www.majulah-ijabi.org
- www.ahlulbaitIndonesia.org
- http://syi'ahali.wordpress.com
- http://syi'ahahlulbait.wordpress.com
- www.syi'ah.co
- http://abatasyah.,net
- www.jalal-center.com
- www.fatimah.org
- www.icc-jakarta.org
- www.babilm.4t.com
- http://ahl-lul-bait.org
- http://ahmadsamantho.wordpress.com
- www.islamalternatif.net
- www.icas-indonesia.org
- http://islamfeminis.wordpress.com
- http://wisdoms4all.com/ind/
- www.yapibangil.org
- www.alitrah.com
11. Lembaga Penerbitan Syi'ah di Indonesia
1.
buletin Al jawad, Bandung
2. buletin Al
ghadir
3. buletin Al
tanwir
4. jurnal Al huda
5. Majalah Al
hikmah
6. majalah Al huda
, diterbitkan oleh ICC Jakarta
7. majalah Al
mawaddah
8. majalah Al
mustafa
9. majalah yaum al
quds
10. penerbit Al
baqir
11. penerbit Al
bayan
12. penerbit Al
hadi
13. penerbit Al
jawad
14. penerbit Al
muntazhar
15. penerbit
As-sajjad
16. penerbit
Al-tsaqalain
17. penerbit CITRA
18. penerbit CV
firdaus
19. penerbit Duta
Ilmu
21. penerbit ICC-Al
huda
22. penerbit Mahdi
23. penerbit Mizan
24. penerbit
Majelis ta'lim Amben
25. penerbit Mulla
Shadra
26. penerbit
Muthahhari press
27. penerbit Pintu
Ilmu
28. penerbit
Pustaka Hidayah
29. penerbit Qonaah
30. penerbit
Risalah Masa
31. penerbit Ulsa
Press
32. penerbit YAPI
Jakarta
33. penerbit
Yayasan Safinatun Najah
34. penerbit Al-Kautsar*
AL-KAUTSAR= Syiah
34. penerbit Al-Kautsar*
*
PUSTAKA AL-KAUTSAR BERBEDA DENGAN AL-KAUTSAR
PUSTAKA AL-KAUTSAR = Sunni AL-KAUTSAR
12. Siapa Bilang Syi’ah Tidak Sesat?
Bukti Autentik
Kesesatan Syi’ah
1.
Syi’ah Rafidhah
mengatakan bahwa Al-qur’an yang ada ditangan kaum muslimin (Ahlus Sunnah) berbeda
dengan Al-qur’an versi Ahlul Bait.
2.
Orang Syi’ah
Rafidhah telah mengkafirkan para sahabat
terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab رضي الله عنهما .
3.
Orang Syi’ah mendo’akan laktat atas Abu Bakar dan Umar. Yang berbunyi :
“ Ya Allah,
limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Ya Allah laknat bagi dua
berhala Quraisy (Abu bakar dan Umar), dan thagut, kawan-kawan, serta
putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkan perintah-Mu,
mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu,
menjungkirbalikab agama-Mu, mengubah kitab-Mu,… dsb.”
4. Orang Syi’ah Rafidhah tidak
menggunakan riwayat Ahlus Sunnah.
5. Orang Syi’ah dalam hal ini diwakilkan
Ayatusi Syi’ah Khomeini menyatakan bahwa Rasulullah صلى الله علىه و سلم telah menyembunyikan sebagian risalah dan
gagal membina umat.
6. Orang Syi’ah mengkafirkan
Ahlussunnah.
7. Shalat orang Syi’ah berbeda
dengan shalat Ahlussunnah.
8. Orang Syi’ah telah berbuat
ghuluw (berlebih-lebihan) kepada imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada tahap
“menuhankan” mereka.
13. KRITERIA “SESAT” VERSI MUI
1. Mengingkari
rukun iman dan rukun islam.
2. Mengikuti atau
meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-qur’an dan
As-Sunnah).
3. Meyakini
turunnya wahyu setelah Al-qur’an.
4. Mengingkari
autentisitas atau kebenaran isi Al-qur’an.
5. Menafsirkan
Al-qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis
Nabi sebagai sumber Ajaran Islam.
7. Melecehkan atau
merendahkan para Nabi dan Rasul.
8. Mengingkari Nabi
Muhammad صلى الله علىه و
سلم
sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
9. Mengubah
pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syari’ah.
10. Mengkafirkan
sesama muslim tanpa dalil syar’i.
Dari sepuluh kriteria diatas, syi’ah mempunyai delapan diantaranya.
MASIH MAU BILANG
BAHWA SYI’AH TIDAK SESAT?
DAFTAR PUSTAKA
BUKU MUI : Mengenal
dan mewaspadai penyimpangan syi’ah di Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar